Hukum & Kriminal

Istri Akui Salah Dengar soal Rp 15 Juta


PROBOLINGGO – Ini cerita ironis yang dialami Khoirun Ruman (40), warga RT 9 – RW 4 Jalan Sunan Bonang, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Gara-gara menemukan handphone (HP), ia dijebloskan sel Polres Probolinggo Kota. Ruman bahkan terancam tidak bisa berlebaran Idul Fitri bersama

Dua hari lalu Polres Probolinggo Kota melakukan upaya perdamaian pemilik HP dengan Khoirun Ruman. Tetapi, upaya perdamaian itu tidak membuahkan hasil. Maka, sampai kemarin (20/5) Ruman masih harus mendekam di balik jeruji mapolresta.

Ceritanya, Ruman menemukan HP milik Suhaima, warga Kelurahan Jati. Sebelumnya, Suhaima kehilangan HP itu. Tetapi Ruman harus mendekam dalam penjara karena dinilai memiliki barang dengan cara melawan hak. Ruman terancam jerat pasal 362 KUHP tentang pencurian.

Pasalnya, HP yang ditemukannya itu diinstall ulang oleh Ruman. Selain tidak melaporkan telah menemukan HP, Ruman juga me-reject atau menolak panggilan di HP yang ditemukannya itu.

Menurut Supriya (38), istri Ruman, Suhaima sudah tidak mempermasalahkan Ruman, dengan bukti tanda tangan. Tetapi Ruman yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan, masih belum bisa menghirup udara bebas. Kendati demikian, Supriya yang tinggal di rumah bambu reot, tetap berharap suaminya segera dibebaskan dari segala tuntutan.

Supriya menuturkan, suaminya menemukan HP Oppo, 6 bulan lalu, saat kulak pakan burung. Diperkirakan, HP tersebut milik seseorang yang membeli pakan burung di toko pakan ternak di Jalan Tjut Nya’ Dien di kawasan Pasar Baru.

Perempuan yang bersama keluarganya setiap hari tidur beralas tikar ini menyebut suaminya tidak pernah menggunakan HP yang ditemukan itu. Namun, HP tersebut hanya dipakai bermain game online oleh anaknya. “Suami saya tidak bisa mengoperasikan. Kalau HP jadul kayak ini, bisa,” ujar Supriya menunjukkan ponsel low end miliknya.

Terkait pernyataannya penyidik meminta sejumlah uang, Supriya mengaku salah dengar. Kala itu, ia panik lantaran suaminya ditangkap polisi saat kerja kuli bangunan di depan PT Eratex Djaja. Sehingga, pernyataan penyidik yang menyebut, suaminya terancam 5 tahun penjara dan denda Rp 15 juta disampaikan berbeda ke sejumlah wartawan.

“Saya yang keliru. Penyidik bukan meminta uang Rp15 juta. Tetapi ancaman denda suami saya Rp 15 juta. Waktu itu saya di polres panik, tidak begitu memperhatikan penjelasan penyidik. Sehingga denda Rp15 juta saya kira penyidik minta uang Rp 15 juta. Sayan ngomong seperti itu ke wartawan. Sekali lagi, maaf. Memang saya yang keliru ucap,” kata Supriya.

Tetapi Supriya membenarkan telah titip uang Rp 4 juta ke salah satu anggota polisi bernama Agus. Uang itu tujuannya sebagai uang kerugian jika sewaktu-waktu pemilik HP meminta kerugian. “Mumpung saya punya uang jual motor matik orang tua saya. Laku Rp 13 juta. Yang Rp 4 juta saya titipkan. Sisanya untuk biaya hidup selama suami saya dipenjara,” tambahnya.

Supriya yang berjualan pakan burung di rumahnya, merasa terpukul dengan kejadian ini. Sebab, suaminya tulang punggung keluarga. Penghasilan dari toko pakan burung samping rumahnya itu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Putra sulungnya yang tidak tamat SMP, sejak bapaknya ditahan, jarang kerja. ”Dia kan ikut bapaknya kuli bangunan. Tuh anaknya ada di dalam, enggak kerja saat bapaknya ditahan,” ujar Supriya.

Hidup berat keluarga ini tercermin dari rumah yang mereka tinggali. Rumah itu seluruhnya terbuat dari kayu dan bambu. Berdirinya rumah itu pun tidak lagi tegak. Selama 5 tahun tinggal di rumah reot itu, Supriya mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemkot.

“Enggak pernah dapat bantuan rehab rumah tidak layak huni. Suami saya sakit 6 bulan juga berobat dengan biaya sendiri, karena BPJS-nya sudah tidak ada,” ucap Supriya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel