Hukum & Kriminal

8 Terdakwa Divonis 2,5 – 3 Tahun


KRAKSAAN – Sidang kasus pembakaran maling motor, Samhadi, di Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, sudah sampai pada penjatuhan vonis. Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan kemarin (23/4), majelis hakim menjatuhkan vonis 2,5 tahun sampai 3 tahun kepada 8 orang terdakwa.

Terdakwa dalam kasus ini adalah Saton yang merupakan kepala desa (Kades) Tlogosari, Kecamatan Tiris. Sedangkan 7 orang lainnya adalah warga setempat, yaitu  Amin, Samin, Rofi’i, Mistar,      Sugi, Suparman, dan Edi Efendi.

Mereka dianggap bersalah karena terlibat dalam insiden pembakaran Samhadi, yang diduga melakukan aksi pencurian sepeda motor pada Senin, 9 Juli 2018 lalu. Selanjutnya, dalam sidang kemarin majelis hakim yang diketuai Gatot Ardhian menjatuhkan vonis 2 tahun 6 bulan sampai 3 tahun kepada delapan terdakwa tersebut.

Delapan orang terdakwa dikelompokkan menjadi dua. Kades Saton, Amin, Samin, Rofi’i dan Mistar dijatuhi vonis 2,5 tahun atau 2 tahun 6 bulan penjara. Sedangkan kelompok terdakwa Sugi, Suparman, dan Edi Efendi dijatuhi vonis 3 tahun penjara. 

Menurut majelis hakim, para terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan yang menyebabkan matinya seseorang.

Gatot Ardian melalui Humas PN Kraksaan Yudistira menyampaikan, usai pembacaan putusan itu, pihak terdakwa menyatakan masih pikir-pikir. “Jadi kami beri jatah waktu seminggu untuk berpikir. Entah nanti melakukan banding atau tidak,” jelasnya.

Para terdakwa divonis oleh Majlis Hakim Pengadilan Negeri Kraksaan. Masing-masing 3 tahun penjara untuk 3 terdakwa, dan 2,5 tahun penjara untuk 5 terdakwa. (Abdul Jalil/Koran Pantura)

Menurut Yudistira, jika nanti terdakwa tidak menerima putusan, maka akan dilanjutkan pada sidang banding. Kecuali terdakwa menerima, maka putusan itu sudah inkrah atau berkekuatan hukum tetap. “Sekarang belum inkrah, menunggu jawaban terdakwa. Kalau lebih dari seminggu belum ada jawaban, berarti dianggap menerima,” katanya.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ardian Junaedi menyampaikan, vonis untuk 8 terdakwa itu memang tidak sama. Tiga terdakwa mendapat hukuman 3 tahun penjara, sedangkan lima lainnya mendapat 2,5 tahun penjara. “Yang membedakan itu perannya. Untuk 3 terdakwa itu perannya menyulut api, mengikat dan membakar ban pada korban,” jelasnya.

Sedangkan 5 terdakwa lainnya, lanjut Ardian, berperan sebagai pembantu. Ada yang memukul sekali, ada yang menendang sekali dan yang lainnya. “Jadi perannya tidak sama. Makanya vonisnya tidak sama juga,” jelas Ardian yang juga menjabat  Kasi Pidum Kejari Kabupaten Probolinggo.

Soal langkah lanjutan, JPU akan menunggu sikap terdakwa. Jika nanti terdakwa memutuskan untuk melakukan banding, JPU akan melakukan yang sama. “Kecuali terdakwa sudah menyatakan menerima, kami akan terima,” jelas pria asal Lumajang itu.

Sementara, penasihat hukum terdakwa, Rudi Nurcahya, menyatakan bahwa dirinya merasa keberatan dengan vonis hakim. Karenanya, pihak terdakwa memilih untuk pikir-pikir dahulu. “Kami akan menentukan sikap dalam dua atau tiga hari untuk menetapkan langkah yang paling baik,” kata Rudi. (yek/iwy)


Bagikan Artikel