Hukum & Kriminal

Remaja Perkosa Siswi Tidak Ditahan, Boleh Ikut Ujian

PAJARAKAN – Satreskrim Polres Probolinggo memberikan kelonggaran pada MH (18) dan WS (13), dua remaja asal Desa Randumerak, Kecamatan Paiton yang disangka menjadi pelaku perkosaan. Selain tidak ditahan, dua pelaku yang masih pelajar itu diperbolehkan mengikuti ujian.

MH dan AZ sebelumnya diamankan karena disangka telah melakukan pemerkosaan terhadap tetangganya, AZ (16). AZ masih berstatus siswi MA (Madrasah Aliyah/SMA). Sedangkan MH tercatat masih kelas 1 SMA. Dan yang paling ironis adalah WS yang masih duduk di kelas 6 MI (Madrasah Ibtidaiyah/SD). Karena perkosaan yang dilakukan berulang kali, AZ hamil dan telah melahirkan seorang bayi.

Kanit Reskrim Polres Probolinggo Bripka Reni menyampaikan, pihaknya masih memberikan kelonggaran pada dua pelaku, yaitu dengan tidak menahan mereka. Sebab  menurutnya, pelaku masih berstatus siswa aktif di salah satu lembaga sekolahnya. “Pelaku tidak kami tahan, karena harus mengikuti ujian,” katanya, kemarin (15/4).

Ia melanjutkan, kedua pelaku di bawah umur itu masih memiliki harapan dan bisa diperbaiki mentalnya untuk menjadi lebih baik. “Sementara belum kami tahan, karena masih ujian. Kalau sudah selesai (ujian, red), akan kami tindak-lanjuti,” paparnya.

Saat disinggung penyebab pelaku itu melakukan tindak asusila, Bripka Reni menyebut  pelaku terlalu sering menonton video porno melalui handphone orang tuanya. Akibatnya, pelaku juga bernafsu untuk melakukan hal yang sama.

“Nah, saat di rumah sepi, korban yang tinggal serumah dengan pelaku dijadikan sasaran dengan berbagai dalih ancaman. Hingga akhirnya korban hamil dan melahirkan seorang bayi secara prematur,” jelas Reni.

Reni sangat menyayangkan terjadinya kasus ini. Dua pelaku yang masih berstatus siswa itu harus terjerumus pada dunia gelap. Menurutnya, kasus ini menjadi cermin dari kurangnya perhatian dan penjagaan orang tua. “Pantauan orang tua itu penting, biar anak tidak terjerumus pada hal demikian,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Dewi Korina menyatakan sangat prihatin atas kejadian tersebut. Harusnya, kejadian seperti ini menjadi titik evaluasi dan introspeksi bagi dunia pendidikan. Sehingga peristiwa demikian tidak sampai terulang di dunia pendidikan. Terutama di lingkungan lembaga pendidikan dengan latar belakang keagamaan kuat. Ia berharap, keluarga dan masyarakat juga turut andil menjaga para generasi muda di Kabupaten Probolinggo. Sehingga, bimbingan dan pengawasan pada anak, baik di lingkungan sekolah maupun tidak, tetap terjaga. “Ke depan, pendidikan karakter di setiap sekolah harus terus ditingkatkan. Semoga tidak terulang kembali,” katanya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan