Hukum & Kriminal

Istri Kebingungan Lacak Suaminya yang Didor Polisi


Sholehah mengusap air matanya sembari menunjukkan surat penangkapan terhadap Saman, suaminya, yang ia potret dengan ponsel. Sholehah mencari keberadaan suaminya di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, namun hasilnya nihil. (Rahmat Hidayat/Koran Pantura)

KRAKSAAN –  Seorang terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) bernama Saman bib Asmadin, dikabarkan ditembak polisi agar bisa ditangkap. Warga Desa Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo itu dikabarkan ditangkap di lapangan desa setempat oleh Polisi, pada Kamis (28/3) sekitar pukul 01.00.

Penembakan terhadap terduga pelaku ini terkonfirmasi di UGD RSUD Waluyo Jati Kraksaan pada Kamis dinihari. Berdasarkan penuturan petugas UGD yang enggan disebut namanya, pasien penembakan di Tiris dibawa pada Rabu malam sekitar pukul 02.00. Bahkan petugas tersebut melihat saat dokter merawat pasien penembakan.

Petugas itu juga tidak berani menyebutkan posisi luka tembak di tubuh terduga pelaku. “Tadi malam ada. Telat sampean sekarang sudah dipindahkan. Tapi kami tidak berwenang mengatakan identitasnya dan pemindahannya. Itu dirahasiakan pihak berwenang,” katanya.

Keadaan yang tidak terbuka dan ada kesan akses informasi ditutup ini menimbulkan polemik. Istri dari Saman, yakni Sholehah (26) mencari suaminya di RSUD Waluyo Jati, Kamis sore.

“Saya istrinya Saman Bin Asmadin, alamat Segaran, Kecamatan Tiris. Saya mengerti kejadiannya. Suami saya ditangkap di lapangan Segaran. Tapi saya ingin protes karena tanpa ada surat penangkapan. Sekarang di mana gak tahu, dirahasiakan,” kata Sholehah kepada Koran Pantura.

Menurutnya, surat penangkapan atas suaminya, ia terima pada Kamis (28/3) pagi pukul 08.00. Dalam surat tersebut diterangkan bahwa penangkapan dilakukan karena Saman diduga melakukan curanmor di Desa Tambelang, Kecamatan Krucil, pada Senin 4 Maret lalu sekitar pukul 02.00.

Surat Penangkapan Polsek Krucil bernomor SP.KAP/03/III/2019/Reskrim menyebut bahwa barang bukti dari curanmor itu adalah 1 unit sepeda motor, dan jeratan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. Dalam surat itu ada tanda tangan terduga pelaku, yakni Saman, dan petugas berpangkat Bripka yang menangkap Saman.

Sholehah mengaku khawatir dengan keadaan suaminya. Ia menginginkan keterbukaan informasi. “Saya sudah cari ke Polsek Krucil tapi gak ada, ke Polres Probolinggo juga bilang gak ada,” ungkapnya.

Dia menyadari suaminya bersalah karena terlibat kasus curanmor di Krucil. Namun Sholehah sedih dan kecewa karena ia merasa haknya untuk mengetahui keadaan suaminya dicekal. “Waktu di Polsek Krucil itu saya gak boleh ketemu suami. Malah saya disuruh pulang, diusir,” ujarnya sambil menahan tangis.

Sholehah cukup khawatir karena sejak Senin (4/3), suaminya tidak pulang ke rumah. Menurut Sholehah, suaminya sehari-hari bekerja sebagai bengkel sepeda motor, kadang jadi buruh tani. Namun dia tidak mengetahui jika suaminya terlibat curanmor.

H. Suyadi, tokoh masyarakat Tiris menyayangkan dibatasinya akses informasi tentang keberadaan dan kondisi Saman. Tokoh yang akrab disapa Sio itu khawatir kondisi Saman memburuk dan meninggal dunia.

Sio juga turut mengantarkan Sholehah mencari keberadaan Saman di Polsek Krucil, Polres Probolinggo, dan RSUD Waluyo Djati. “Istrinya jelas punya hak melihat kondisi suaminya walaupun sedang ditahan oleh Polisi,” terangnya.

Sementara itu, Kapolsek Krucil AKP Dwi Sucahyo tidak memberikan keterangan detail terkait peristiwa tersebut. Menurutnya, jajarannya hanya membantu Buser Polres Probolinggo untuk menangkap pelaku curanmor terkait.

“Polsek bantu teman-teman Buser Polres  TKP Tambelang Krucil. Udah langsung dibawa mobil kemarin. Ada di Polres,” kata AKP Dwi saat dikonfirmasi via ponsel, kemarin.

Terkait keluhan istri Saman, Kapolsek mengatakan pihaknya hanya mematuhi prosedur. “Saat itu memang tidak boleh ditemui karena sedang diinterogasi oleh petugas. Dan waktunya mepet, karena akan segera dibawa ke tahanan Polres Probolinggo,” kata AKP Dwi.

Dia mengatakan, tersangka sempat sarapan roti untuk menghadapi proses penyidikan. Ia menyatakan pengamanan terhadap tersangka dilakukan dengan sangat ketat. Pasalnya, AKP Dwi menyebut Saman merupakan pencuri kelas kakap.

“Dia itu mencuri di banyak TKP. Krucil beberapa kali, di Tiris, malah banyak TKP pencurian di Kraksaan. Bahkan ada laporan dari Jember, Saman juga pernah beraksi di sana,” ungkap AKP Dwi. (ra/eem)


Bagikan Artikel