Hukum & Kriminal

Seluruh terdakwa perkara pembunuhan Samhadi, maling yang dibakar di Desa Tlogosari, menghadiri sidang ketiga di Pengadilan Negeri Kraksaan, kemarin (5/3). (Abdul Jalil/Koran Pantura)

Kasus Maling Dibakar, Minta Eksepsi Terdakwa Ditolak


KRAKSAAN – Perkara pembunuhan Samhadi, maling yang dibakar di Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo memasuki sidang ketiga, Selasa (5/3). Agenda sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan kemarin adalah pembacaan tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap permohonan eksepsi dari pihak Penasehat Hukum (PH) terdakwa. JPU meminta majelis hakim menolak eksepsi dari terdakwa.

Sidang itu dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan Gatot Ardian. Ketok palu pertama dari Gatot Ardian selaku ketua majelis hakim menjadi tanda dibukanya persidangan.

Tim JPU mulai membacakan tanggapan terkait permohonan eksepsi yang dilakukan oleh penguasa hukum terdakwa pada sidang minggu lalu. Setelah tanggapan dibaca, berkasnya diserahkan pada majelis hakim yang dilanjutkan dengan ditutupnya sidang.

“Sidang kasus 8 terdakwa akan dilanjutkan pada Selasa minggu depan terkait putusan sela itu,” kata Gatot Ardian, disusul dengan ketok palu sekali tanda sidang ditutup.

Usai persidangan, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo Ardian Junaedi yang menjadi tim JPU mengatakan, pihaknya tengah menanggapi permohonan eksepsi dari terdakwa. “Kami sudah membacakan tanggapannya di persidangan,” ungkapnya.

Lanjutnya, ia berharap hakim menolak permohonan eksepsi dari terdakwa dalam sidang putusan sela pekan depan. Sehingga persidangan tetap bisa dilanjutkan. Karena menurutnya, kasus tersebut sudah masuk dalam materi sidang perkara yang sudah dipaparkan dengan jelas.

Ardian juga menanggapi eksepsi terdakwa yang menyatakan banyak ketidakjelasan dan kurang cermat dalam dakwaan JPU. Ardian mengatakan, dirinya sudah menjelaskan perkara tersebut dengan rinci. Delapan terdakwa terjerat dalam kasus yang sama, namun dengan peran berbeda.

“Perannya saja yang beda, ada yang membakar, ada yang mengikat dan sebagainya. Tapi mereka melakukan itu secara bersama-sama. Entah bagaimana keputusan hakim nanti. Tapi kami mohon eksepsi dari terdakwa ditolak,” kata Ardian.

Sementara itu, Penasehat Hukum (PH) terdakwa Prayuda Rudi Nurcahya mengatakan, pihaknya masih berpegang teguh pada eksepsi yang diajukannya pada sidang kedua 26 Februari lalu. Eksepsi sendiri diajukan oleh seluruh terdakwa. Eksepsi tersebut diajukan oleh seluruh terdakwa. Yakni terdakwa Saton selaku Kepala Desa Tlogosari, Amin, Edi Efendi, Sugi, Samin, Suparman, Rofi’i, dan Mistar.

Meski JPU menilai eksepsi dari terdakwa tidak sinkron, pihaknya tak bergeming. “Tetap saja, bagi saya eksepsi itu juga terkait kejelasan, kecermatan pada materi dakwaan itu. Selama dakwaan tidak jelas dan tidak cermat, apalagi hanya fotocopy ini dan itu, saya tetap keberatan. Kami menunggu keputusan sela minggu depan,” ungkapnya.

Perlu diketahui, Samhadi adalah pelaku pencurian yang dibunuh dengan cara dibakar di Desa Tlogosari pada Senin, 9 Juli 2018 lalu. Aksi pembunuhan itu diduga dilakukan oleh 8 terdakwa. Saat itu, Samhadi melakukan pencurian di sebuah rumah. Namun ia kepergok salah satu dari terdakwa. Samhadi kemudian digerebek dan berhasil dibekuk. Tak lama kemudian, Samhadi dibakar hingga tewas. (yek/eem)


Bagikan Artikel