Hukum & Kriminal

Habisi Nyawa Nenek, Cucu Divonis 14 Tahun Penjara


PROBOLINGGO – Ahmad Hadi alias Mat bin Pardi (24) bakal menjalani hukuman penjara cukup lama. Yakni selama 14 tahun. Hal ini setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Kraksaan menyatakan Terdakwa bersalah karena menghabisi nyawa Jaminah (60), seorang nenek asal Desa Legundi, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo.

Vonis tersebut dibacakan di Pengadilan Negeri Kraksaan oleh ketua majelis hakim sidang Agus Akhyudi, Senin (22/8) siang. Vonis tersebut lebih ringan 3 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diajukan selama 17 tahun hukuman penjara.

Humas Pengadilan Negeri Kraksaan Syafruddin mengungkapkan, vonis 14 tahun terhadap Terdakwa oleh majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan JPU. Terdakwa dituntut dengan pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Pembunuhan Berencana.

“Tuntutannya 17 tahun penjara. Namun atas dua pertimbangan, yakni karena terdakwa mengalami cacat fisik. Kedua, ada andil korban sehingga terdakwa melakukan pembunuhan. Sehingga Terdakwa divonis 14 tahun. Ini lebih ringan dari tuntutan,” beber Syafruddin.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Probolinggo David P. Duarsa mengatakan, tuntutan 17 tahun yang diajukan oleh JPU dinilai sesuai dengan perbuatan Terdakwa. Aksi pembunuhan dengan disertai perampasan harta benda berupa perhiasan itu, layak untuk menerima hukuman pidana 17 tahun.

Menurutnya, beberapa pertimbangan yang memberatkan terdakwa yaitu perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Perbuatan terdakwa telah menghilangkan nyawa orang lain. Selain itu, motivasi terdakwa adalah untuk menghilangkan nyawa korban Jamina. Selain itu, ada upaya terdakwa untuk menghilangkan tubuh korban Jamina.

“Terdakwa melakukan kejahatan dengan memukulkan kunci inggris dengan berkali-kali ke tubuh dan kepala korban. Lalu diseret dalam keadaan telanjang keluar dari kamar mandi dan dibuang di pekarangan kosong,” beber Kajari David.

Terkait vonis, Pihaknya masih mempertimbangkan apakah menerima atau akan melakukan upaya banding. Namun yang pasti, David berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Kajari berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat agar tidak terulang kembali kejadian serupa. Maka pentingnya pendidikan agar tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu,” imbaunya.

Perlu diketahui, Terdakwa dan korban memiliki hubungan kerabat. Terdakwa adalah cucu keponakan dari korban. Keduanya bahkan tinggal di rumah yang sama. Korban dibunuh oleh Terdakwa pada 25 April 2022 lalu.

Terdakwa tega menghabisi Korban karena sakit hati setelah merasa dihina oleh Korban. Selanjutnya, Terdakwa dengan kunci Inggris memukul korban yang sedang mandi. Setelah korban tewas, untuk menghilangkan barang bukti, Terdakwa menyeret Korban ke sebuah pekarangan kosong milik tetangga. Jasad korban ditemukan warga sudah dalam kondisi membusuk oleh tetangga. (ar/eem)


Bagikan Artikel