Hukum & Kriminal

Sutiha berdiri di sekitar tanah waris miliknya yang telah dipasangi pagar. Hingga saat ini, ia belum menerima uang ganti rugi dari pembebasan lahan untuk jalan tol Paspro. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Protes Tol, Pagari Tanah Waris

PROBOLINGGO – Mengaku tidak mendapat uang ganti rugi dari pembebasan lahan untuk jalan tol Pasuruan  – Probolinggo (Paspro), Suliha (47) melancarkan aksi protes. Warga Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo itu memagar tanah warisnya yang berada di rest area di Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Senin (29/1) pagi.

Selain dipagar dengan bambu, Suliha yang tinggal tak jauh dari lokasi rest area tersebut, juga menancapkan banner. Pada banner itu tertulis “tanah ini milik Bu Sutiha. Dalam pengawasan kuasa hukum Nurul Huda.”

Saat ditemui kemarin (301/1) Sutiha mengaku terpaksa memagar tanah waris dari neneknya, karena hingga kini belum mendapat uang rugi. Karena sudah dua tahun lebih tidak mendapatkan uang rugi, lahan yang sudah diratakan pihak tol Paspro itu tidak akan dijual. “Ya, enggak saya jual dah. Saya tempati sendiri,” katanya. 

Nantinya, lahan seluas 400 meter persegi itu akan ditanami pisang dan sengon. Sutiha tidak akan membangun rumah di lahan yang awalnya berdiri rumahnya, mengingat ia sudah memiliki rumah di lokasi yang tak jauh dari rest area. “Disini dulu berdiri rumah saya, terus diratakan karena kena tol. Saya bangun rumah di tanah pekarangan. Ya, saya beli sendiri pekarangan itu,” tambahnya.

Sutiha berterus terang, pihak tol sudah membayar ganti rugi atau sudah membeli lahan milik neneknya, termasuk tanah yang diwariskan ke dirinya yang kini dipagar. Hanya saja, sudah lebih dari setahun, ia tidak menerima uangnya. “Saya tidak nerima. Uang bagian saya, diambil dan diterima seseorang. Tanda tangan saya dipalsu,” katanya.

Suliha telah melaporkan kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan tanda tangannya ke Polda Jatim dan Polres Probolinggo Kota. Hanya saja, hingga kini kasus yang dilaporkan itu belum selesai. Pihaknya meminta penegak hukum, segera menyelesaikan kasus yang sempat tidak jalan tersebut. “Sekarang sedang proses. Kami minta segera diselesaikan. Karena lama kasus ini tidak jalan,” pintanya.

Menurutnya, lahan milik neneknya seluas 2.531 dan ia mendapat bagian 420 meter persegi. Lahan milik neneknya itu dibeli jalan tol atau diganti-rugi sekitar Rp1 miliar  Dari 5 saudara yang mendapat waris, Sutiha menerima bagian Rp150 juta. “Kami enggak dapat sama sekali. Saya dapat Rp 73 juta, tapi itu ganti rugi rumah saya yang dibongkar,” ujarnya.

Sementara, Camat Sumberasih Ugas menjelaskan, wajar jika Sutiha tidak mendapat bagian dari ganti rugi tanah neneknya. Sebab, uang dari jalan tol itu sudah diterima ibunya dan saat ini ibunya Sutiha masih hidup. “Jadi uangnya diterima ahli warisnya, yakni ibunya Sutiha. Kecuali, ibunya meninggal, baru uang itu diberikan ke Sutiha,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Camat Ugas menyatakan sudah mencabut pagar yang ditanam Sutiha. Sebelumnya, Camat sudah mempertemukan Sutiha dan suaminya dengan keluarga besarnya.

Lalu, Camat juga sudah menghubungi pengacara Sutiha dan menjelaskan permasalahannya. “Sudah selesai. Ya kami bongkar disaksikan polsek. Ini kan tidak ada hubungannya dengan jalan tol. Ini persoalan keluarga Sutiha,” pungkasnya.

Sedangkan PPK proyek Tol Paspro Agus  Minarno mengatakan, masalah pembebasan lahan sudah selesai. Termasuk lahan yang dipersoalkan Sutiha. “Sudah Kami bayar semuanya,” kata Agus seraya menunjukkan tanda bukti pembayaran, berikut fotonya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan