Hukum & Kriminal

Plt Direktur RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo drg Rubiyati dalam sidang kemarin bisa tersenyum lega. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Akhirnya, Gugatan ke RSUD Dicabut

PROBOLINGGO – RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo dan BPJS akhirnya bisa lega. Sebab, gugatan yang dilayangkan Hanifah, istri mendiang Sudarman (58), warga Tongas Kabupaten Probolinggo akhirnya dinyatakan dicabut.  

Pencabutan gugatan oleh kubu Hanifah itu dibacakan dalam sidang lanjutan perkara tersebut, kemarin (29/1) siang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Probolinggo. Sidang itu dipimpin hakim ketua Sylvia Yudhiastika, didampingi hakim anggota Lucy Ariesty dan Anton Saiful Rizal.    

Sebelumnya, kubu Hanifah menggugat RSUD dan BPJS. Itu karena suami Hanifah, yaitu Sudarman ditolak saat berobat di Poli Jantung RSUD. Ironisnya, setelah mendapat penolakan dari RSUD, Sudarman tutup usia.

Karena merasa suaminya ditelantarkan, Hanifah yang beralamat di Jl Raya Lumbang, Dusun Krajan, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, akhirnya menggugat RSUD dan BPJS. Keduanya digugat Rp 1 Triliun dan Rp 26 Juta dengan tuduhan melakukan perbuatan melanggar hukum.

Kasus itu sempat disidangkan beberapa kali. Namun, kemarin kubu Hanifah dinyatakan sudah mencabut gugatannya. Atas pencabutan gugatan itu, pihak penggugat dan penggugat sama-sama menyatakan menerima.

Dalam sidang terakhir kemarin, dari pihak Hanifah yang hadir adalah kuasa hukum Farid Budi Hermawan. Sedangkan dari pihak tergugat,  hadir kuasa hukumnya yaitu Kasi Datun Kejari  Kota Probolinggo Elan Jaelani.

Selain itu, dari pihak tergugat hadir pula Kepala BPJS Cabang Pasuruan Debby Nianta Musigiasari dan Kepala Operasional Kantor BPJS Kota Probolinggo Mira Estherin. Berikutnya tampak Plt Direktur RSUD drg Rubiyati dan Wadir Yanmed dr. Taufiqurohman.

Usai sidang, kuasa hukum penggugat Farid Budi Hermawan mengaku mengetahui kalau perkara yang didampinginya ini akan dicabut kliennya. Mengingat, sebelumnya keluarga almarhum Sudarman telah berkoordinasi dengannya. Hanifah sendiri yang meminta agar gugatannya dicabut. “Kami berharap, agar kejadian yang dialami klien kami tidak terulang bagi pasien lain,” harap Farid.

Selain itu, Farid meminta pihak RSUD lebih memperhatikan keluarga yang ditinggal almarhum. Ia juga berharap, kejadian yang menimpa mendiang Sudarman dievaluasi dan jadi pelajaran berharga bagi RSUD dan BPJS. “Karena ada banyak kasus serupa terjadi. Namun, tidak mencuat. Kasus suami Hanifa ini mencuat hingga menggugat BPJS dan RSUD, karena curhat ke kami. Saya kan masih tetangganya,” terangnya.

Sementara, Kasi Datun Elan Jaelani menyatakan menerima pencabutan gugatan ini karena memang sudah menjadi hak penggugat. Dalam kesempatan itu, Elan menjelaskan, kalau tanda-tanda gugatan akan dicabut sudah diketahui sebelumnya. Mengingat, kuasa hukum penggugat tidak pernah menghadirkan principal, dalam hal ini Hanifa. “Ya, kami menerima. Sebeb pencabutan gugatan, hak penggugat,” katanya.

Sedangkan Plt Direktur RSUD drg Rubiyati mengatakan, pelayanan terhadap pasien tidak ada masalah dan telah sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur). Menurutnya, seluruh pasien diiperlakukan sama. Tidak ada perbedaaan pasien kaya atau miskin. Baik pasien berasal dari Kota ataupun Kabupaten Probolinggo. “Pelayanan yang kami terapkan, sesuai SOP. Kalau evaluasi, terus kami lakukan. Tidak perlu menunggu ada permasalahan,” katanya.

Lalu, Kepala BPJS Cabang Pasuruan Debby Nianta Musigiasari menambahkan bahwa pihaknya sebatas menjalankan aturan. Jika ada peserta BPJS ada yang merasa dirugikan, dipersilahkan  mengajukan keberatan ke Mahkamah konstitusi (MK). “Kami hanya menjalankan tugas sesuai aturan. Jika ada yang keberatan, bukan kami yang dituntut. Langsung ke MK saja,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan