Hukum & Kriminal

Suasana Berkabung, Belum Dapat Keterangan


PROBOLINGGO – Polres Probolinggo Kota tetap memberikan perhatian terhadap kasus tewasnya 4 warga Jalan Sunan Kalijaga, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan setelah kesetrum arus listrik pada Jumat (18/1) malam lalu. Namun untuk sementara, Polres belum bisa mendapat keterangan dari para saksi yang masih dalam suasana berkabung.

Kasat Reskrim AKP Nanang Effendi mengatakan, pihaknya akan mencari tahu siapa warga yang memasang lampu penerangan jalan di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara). Selain dipasang secara ilegal, arus listrik dari kabel lampu itulah yang membuat 4 warga tersebut tewas. Empat warga dimaksud adalah Sri Wahyuni, Totok, serta pasutri Joko Sandy (33), dan Elistya Hutahuruk (33).

Menurutnya, penyelidikan ke arah sana belum dilakukan. Mengingat keluarga dan tetangga korban masih dalam suasana berkabung. AKP Nanang tidak mau berandai-andai soal kabar yang menyebut bahwa pemasang lampu itu adalah salah satu korban tewas. “Kami memang mendengar kabar itu. Tapi kan masih ada penyelidikan yang lebih mendalam. Sekarang penyelidikannya tidak maksimal karena masih suasana berduka,” terangnya, Minggu (20/1).

Seandainya pemasang lampu adalah salah satu dari korban tewas, maka pihaknya akan menghentikan penyelidikan. “Dengan demikian, penanganan kasus itu tidak akan dilanjutkan,” kata AKP Nanang.

Sementara itu, Kapolres Probolinggo Kota AKPB Alfian Nurrizal mengatakan, saat olah TKP, pihaknya mendatangkan PLN. Hasilnya, ditemukan lampu penerangan jalan yang dipasang secara ilegal. Ia mengatakan, interogasi awal telah dilakukan ke sejumlah warga yang tinggal dekat TKP. “Kalau ke keluarga korban masih belum. Kan masih suasana duka,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, kapolresta mengimbau dan meminta masyarakat agar tidak melakukan perbuatan serupa. Jika memang masyarakat membutuhkan penerangan jalan, hendaknya menghubungi PLN atau instansi terkait yang menangani PJU (Penerangan Jalam Umum). “Hubungi PLN atau dinas terkait. Kalau tidak diizini, jangan pasang sendiri. Ya, agar peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Seksi Pemeliharaan Teknik pada PLN Probolinggo Arif Dwi Purwanto mengatakan, pihaknya telah menyerahkan dana dukacita sekadarnya ke seluruh keluarga korban. Menurutnya, lampu dan kabel listrik yang menyebabkan 4 warga tewas itu tidak dipasang oleh petugas PLN. “Kejadian tersebut, bukan salah kami. Karena bukan kami yang memasang saluran penerangan jalannya,” tegasnya.

Ia menduga pemasang lampu itu adalah warga setempat yang tidak mengajukan izin maupun pemberitahuan ke PLN. Ia mengungkapkan, kabel yang dipasang warga bergesekan dengan atap teras seng. Sehingga kabel terkelupas dan arus listriknya mengalir ke atap, lalu mengalir ke besi penyangga atap yang dipegang oleh korban hingga tewas.

“Kabelnya terjepit seng hingga kabel bocor atau mengelupas. Arus yang teganganya 220 volt mengalir ke seng hingga ke besi penyangga atap,” terang Arif.

Disinggung soal pemasangan lampu penerangan jalan liar, Arif menyatakan akan meningkatkan kontrol. Soal saluran kabel yang menewaskan 4 warga itu, Arif menyebut posisinya tidak terpantau karena berada di gang sempit. “Sulit terpantau karena masuk gang sempit. Dan lagi, tenaga kami terbatas,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan Kota Probolinggo Sumadi mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan. Yakni dengan mendata penyambungan listrik yang dilakukan warga. Ia mengaku pihaknya akan menerapkan meterisasi untuk lampu penerangan jalan yang diperlukan warga. “Ada 261 titik yang sudah kami meterisasi sebelumnya. Mudah mudahan tahun ini ada penambahan,” terangnya.

Terkait pemasangan listrik ilegal, Sumadi meminta pihak PLN juga mengontrol dan ikut mengawasi. Jika ditemukan, ia berharap PLN memutus jalur penerangan jalan dimaksud.

“Atau, PLN kami harap memberitahukan ke Dishub agar bisa didata dan selanjutnya diikutkan program meterisasi. Kami akan mengecek dan mendata ulang karena pemasangan listrik tanpa izin jumlahnya terus bertambah. Ini karena memang warga butuh penerangan,” ungkap Sumadi. (gus/eem)


Bagikan Artikel