Hukum & Kriminal

DPO Tervonis Korupsi Dana KUR Dieksekusi


PROBOLINGGO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo akhirnya berhasil mengamankan Yusuf Afandi (44), asal Desa Kerpangan, Kecamatan Leces. Tervonis kasus tindak pidana korupsi (tipikor) ini dieksekusi di rumahnya, Selasa (24/8) malam. Sebelumnya, Yusuf sempat kabur selama 5 bulan.

Kepala Kejari (Kajari) Kabupaten Probolinggo David Palapa Duarsa menyampaikan, penangkapan itu dilakukan setelah pihaknya menerima informasi bahwa tervonis Yusuf berada di rumahnya. Yusuf akhirnya diamanakan setelah menunaikan ibadah sholat isyak.

Ia menjelaskan, tervonis diamankan usai divonis oleh hakim dalam sidang Tipikor pada Maret lalu. Dalam putusan itu, Yusuf dijerat pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU  31/1999 yang telah diubah dengan UU 20 tahun 2021. Kemudian jo pasal 5 ke-1 ayat (1) KUHP jo pasal 64 (1) KUHP tentang tindak pidana korupsi.

Dengan pembuktian pasal itu, Yusuf divonis kurungan penjara selama 6 tahun dan denda sebesar Rp 200 juta. Selain itu Yusuf diharuskan mengganti kerugian negara sebesar Rp 289.762.296 rupiah. Jika terdakwa tidak membayar denda tersebut, maka secara otomatis diganti dengan kurungan penjara selama 1 tahun.

“Dalam proses penyelidikan dan penyidikan, tervonis Yusuf sangat tidak proaktif. Saat dipanggil untuk dimintai keterangan juga tidak proaktif. Bahkan selama berlangsungnya persidangan. Sehingga tetap dilakukan dengan sidang inabsensia,” kata Kajari David.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Probolinggo Cok Gede Putra Gaotama menyampaikan, putusan sidang tersebut dijatuhkan pada Maret lalu. Sejak putusan itu, tervonis juga ditetapkan sebagai buron atau DPO (Daftar Pencarian Orang).

Dari pengakuannya, Yusuf bersembunyi di rumah keluarganya di Lumajang. Sesekali saja pulang. “Setelah kami tahu tervonis di rumahnya, baru kami tangkap dan kami bawa kantor kejaksaan,” kata Gede.

Seperti diketahui, Kejari Kabupaten Probolinggo menetapkan MH (buron) dan Yusuf Afandi sebagai tersangka kasus penyelewengan uang negara, Selasa (19/1/2020) lalu. Keduanya disangka menyelewengkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI Unit Leces sebesar Rp 1.059.202.822.

MH merupakan karyawan tetap BRI yang menjabat sebagai mantri atau pemrakarsa. Sedangkan Yusuf Afandi adalah pemilik showroom mobil bekas di daerah setempat.

Kasus itu bermula sejak tahun 2018 lalu. BRI Unit Leces menyalurkan program KUR pada rakyat yang memiliki usaha dan tengah membutuhkan asupan dana. Namun, tersangka MH memalsukan data nasabah yang diajukan.

Para nasabah yang membutuhkan dana itu diajukan bukan untuk menunjang usahanya, melainkan untuk transaksi pembelian mobil bekas melalui showroom milik Yusuf. Ulah kedua pelaku kemudian diketahui oleh pihak bank dan dilaporkan pada tahun 2019 lalu. (yek/iwy)


Bagikan Artikel