Ekonomi

Minyak Goreng Stok Lama, Tetap Jual dengan Harga Lama


PROBOLINGGO – Pemerintah mengatasi problem melambungnya harga minyak goreng dengan memberlakukan harga eceran tertinggi (HET). Namun, ada banyak pedagang yang tidak bisa mengikuti patokan harga dari pemerintah, karena tidak mau merugi. Salah satunya adalah Sulaiman, seorang pedagang Pasar Semampir, Kraksaan.

Kebijakan pemerintah terkait HET minyak goreng, nampaknya belum bisa diikuti oleh para pedagang pasar. Kebijakan tersebut mengatur harga minyak goreng dengan dibagi menjadi tiga jenis. Minyak goreg kemasan curah dihargai Rp 11.500 per liter, kemasan sederhana Rp 13.500, dan kemasan premium Rp 14 ribu per liter.

Hingga hari ini sudah satu pekan kebijakan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng diberlakukan oleh pemerintah. Namun kebijakan tersebut dirasa berdampak negatif bagi pedagang pasar. Minyak goreng milik pedagang pasar tidak laku, karena tidak bisa mengikuti patokan harga dari pemerintah.

Terlihat beberapa stok minyak goreng milik pedagang di Pasar Semampir, Kecamatan Kraksaan masih banyak terpampang di depan tokonya. Salah satunya adalah lapak milik Sulaiman (57). Saat ditanya harga minyak goreng di lapaknya itu, Sulaiman menjawab, “Untuk per liter saya jual dengan harga Rp 18 sampai Rp 19 ribu.”

Ternyata harga yang dipatok Sulaiman masih lebih tinggi dari HET yang ditetapkan pemerintah. Sebab, Sulaiman tidak mau merugi. Jika dipaksakan mengikuti HET minyak goreng, harga itu tidak cukup menutupi harga kulakan minyak goreng yang saat ini masih ada di tokonya.

“Rugi. Kemarin saja diminta jual Rp 14 ribu sudah rugi, apalagi Rp 11.500. Bukan hanya rugi, modal kulakan akan lenyap,” ungkap warga asli Kelurahan Semampir itu.

Stok minyak goreng milik Sulaiman tak kunjung habis. Sebab, mulai kebijakan harga minyak goreng satu harga dan sekarang sudah menggunakan kebijakan HET, pihaknya sudah mengalami penurunan pembeli minyak goreng. Bahkan beberapa hari sudah tidak laku.

“Biasanya stok di toko saya ini habis sekitar dua sampai tiga hari sebelum ada kebijakan itu. Sudah dua minggu, rata-rata pedagang pasar di sini kesulitan mendapat pembeli minyak goreng,” ucapnya sembari meminta Koran Pantura juga menanyakan ke pedagang lain.

Sulaiman mengatakan, kebijakan pemerintah itu tidak memperhatikan kondisi pedagang pasar. Menurutnya, pedagang pasar tidak dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan, yang akhirnya pedagang pasar hanya mendapatkan dampaknya saja.

“Awalnya kan berlaku di ritel modern. Sedangkan pedagang seperti kami ini (pasar tradisional, red) tidak diperhatikan. Apakah stok minyak goreng dengan harga kulakan lama masih ada atau bagaimana. Tiba-tiba keluar kebijakan itu, sekarang berubah lagi lebih murah,” papar Sulaiman dengan nada yang tinggi.

Setelah ditanya mengenai kapan rencana akan mulai mengikuti kebijakan tersebut, Sulaiman tidak bisa memastikan. Sebab, stok minyak goreng miliknya masih tersisa 5-6 kardus dengan kemasan premium. “Mungkin menunggu stok itu habis dulu. Kalau terpaksa nanti ya harus dijual rugi. Pasti lumayan ruginya kalau dengan stok 5-6 kardus dijual murah,” ucapnya dengan pasrah.

Hingga kini, Sulaiman dan pedagang pasar lainnya masih akan mempertahankan harga minyak gorengnya, meski dalam beberapa hari tak ada pembeli. “Sambil menunggu bagaimana nanti kebijakan akhirnya, saya tetap akan menjual dengan harga biasanya dulu. Pedagang yang lain pun begitu,” pungkasnya, sembari bergegas karena ada pembeli yang datang ke tokonya. (ar/iwy)


Bagikan Artikel