Covid-19

Pasien Isolasi Mandiri Enggan ke Isolasi Terpusat


PROBOLINGGO –  Pemkot Probolinggo terus berupaya memindahkan seluruh pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) ke tempat isolasi terpusat (isoter), demi menekan kasus Covid-19. Namun sayang, masih banyak pasien isoman yang enggan pindah ke isoter dengan berbagai macam alasan.

Pemindahan pasien isoman ke isoter merupakan arahan dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan. Itu berlaku juga di Kota Probolinggo.

Dandim 0820 Probolinggo Letkol Arh. Arip Budi Cahyono menargetkan semua pasien yang isoman dipindahkan ke tempat isoter untuk menekan penyebaran Covid-19. “Sampai saat ini total pasien Covid-19 yang menjalani isoman di Kota Probolinggo sebanyak 122 orang dan akan dipindahkan secara bertahap ke tempat isoter,” terangnya, kemarin (25/8).

Sedangkan Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kota Probolinggo Setyorini Sayekti mengatakan, isoter yang tersedia di Kota Probolinggo terbagi di beberapa titik. Di antaranya Rusunawa dengan 64 tempat tidur (TT), Wonoasih 22 TT, Rumah Sehat As Syifa SMPN 6 masih tahap rekruitmen nakes ada 100 TT. “Sementara, hunian hari ini di Wonoasih 8 orang, kemudian di Rusunawa 48 orang. Kalau ditotal ada 56 orang yang ada di isoter,” katanya.

Dengan jumlah itu, pasien terkonfirmasi positif di Kota Probolinggo yang menjalani isoman masih cukup tinggi. Dari 207 kasus aktif, 122 diantaranya masih menjalani isolasi mandiri. “Data per tanggal 24 masih ada 122 orang yang isoman,” katanya.

Setyorini mengatakan, pihaknya bersama jajaran samping sudah berupaya secara persuasif agar mereka yang menjalani isoman pindah ke isoter. “Semga ke depan mereka juga mau pindah. Kami terus berupaya,” katanya.

Warga yang enggan pindah ke isoter itu disebutkan memiliki banyak kendala. Setyorini mengatakan, salah satu kendalanya ialah karena kondisi pasien tidak bisa mandiri. “Misalnya kalau ke kamar mandi, harus dituntun dan lain sebagainya,” katanya. Selain itu, masih ada pasien yang tidak siap secara psikis bila masuk isoter, sehingga menolak.

Berikutnya ada alasan faktor keluarga. “Alasan keluarga tidak bisa ditinggal, anaknya masih kecil, orang tuanya sudah sepuh, dan tidak ada keluarga lainnya,” katanya.

Kendati jumlahnya masih tinggi, Setyorini menjamin pasien isoman masih dalam pantauan nakes Kota Probolinggo. “Tetap dipantau petugas puskesmas dan PPKM mikro. Jika sudah 14 hari sejak tes PCR positif atau 14 hari sejak swab antigen positif dan tidak bergejala,  maka exit dari isoman,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, Walikota Probolinggo Hadi Zainal Abidin mengakui pemindahan pasien Covid-19 ke isoter lantaran isoman menjadi salah satu penyebab kasus Covid-19 di Kota Probolinggo tetap tinggi.  “Yang paling penting adalah tidak boleh isoman di rumah. Jadi semua yang terkonfirmasi harus masuk isoter,” kata Walikota saat memantau lokasi isoter di SMPN 6, Selasa (24/8). 

Menurutnya, isoter yang disediakan di SMPN 6 berkapasitas 103 pasien. Itu terbagi dalam 12 ruangan perawatan dengan masing-masing 7 bed (tempat tidur) di setiap ruangan. “Pasien Covid-19 yang datang akan diskrining kesehatan terlebih dahulu dan selanjutnya dapat menempati ruangan perawatan yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan,” terangnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel